RSS Feed

  • Twitter
  • Digg
  • Stumble

Kamis, Oktober 23, 2008

Film “August Rush”

Kadang-kadang kita suka men-“judge” suatu film bagus atau nggak dari trailer film atau para pemainnya aja tanpa melihat dulu keseluruhan film.
Hal ini terjadi waktu aku lihat trailer film August Rush. Sempat lihat trailernya setahun yang lalu dari berita di TV tapi nggak ada ketertarikannya. Setelah dapat resensi dari suatu majalah yang bilang film ini bagus, tambahan pula adikku udah nonton dan dia bilang bagus akhirnya aku menyewa filmnya.

Whoaaa…ternyata bagus banget! Alur ceritanya mengalir begitu aja, walaupun ada flashback di setting waktu tapi nggak bikin aku bingung waktu menonton. Bikin penasaran sampai aku nggak mau berhenti sampai filmnya habis. Ditonton sampai berkali-kali aku nggak bosen (berlebihan nggak?). Apalagi musc scoring dan lagu-lagu yang jadi latar adegan-adegan di film ini bagus. (jadi penasaran ada nggak album soundtrack-nya)

Ada beberapa hal yang memang nggak masuk akal kalau beneran terjadi di kehidupan nyata. Tapi secara keseluruhan film ini bikin aku tersentuh tanpa harus mengeluarkan airmata. Bagaimana perjuangan si Evan alias August Rush (Freddie Highmore), 10 tahun, yang percaya kalau orangtuanya masih hidup dan berusaha mencarinya sehingga dia melarikan diri dari panti asuhan tempat dia dibesarkannya. Bakatnya yang besar di seni musik, sifatnya yang suka menyendiri, bikin dia dibilang aneh oleh teman-teman di panti.

Kisah petualangannya dimulai ketika dia lari dari panti asuhan Walden County. Dari perjalanannya, dia menemukan bakatnya yang luar biasa di bidang musik. Belajar gitar otodidak dengan gitar seorang pria jalanan bernama Wizard (Robin Williams), yang memegang kendali terhadap anak jalanan yang dipaksa jadi pengamen di New York. Evan lalu diberi nama August Rush oleh Wizard dan dijadikan pengamen jalanan.

Nggak selesai disitu, ketika sarang Wizard digerebek polisi, Evan kabur dan bersembunyi di Gereja. Seorang anak kecil penyanyi gereja yang tinggal disitu melihat bakat Evan setelah dia memainkan piano dan membuat partitur musik tanpa belajar. Pendeta di gereja itu lalu memasukkannya ke sekolah music Juilliard.
Siapa sangka dia lalu diberi kesempatan bikin konser karena prestasinya yang luar biasa. Sementara itu, sang ibu, Lyla (Keri Russel) baru tahu anaknya masih hidup dari ayahnya, yang berbohong mengatakan anaknya mati padahal membuang Evan ke panti asuhan karena ayah Lyla tidak ingin karier musiknya sebagai Cellist terhambat. Selama 10 tahun pula ia tak bisa bertemu Louis (Jonathan Rhys Meyers) seorang anak band, yang tidak tahu kalau Lyla melahirkan anak mereka.

Seru banget menonton kisah tiga orang yang saling terpaut lewat musik ini. Mereka terus saling mencari satu sama lain dan percaya musik akan mempertemukan mereka. Disatu sisi Evan mencari orangtuanya, di sisi lain Lyla mencari anaknya, sedangkan Louis yang mencari kekasihnya (Lyla) yang sudah 10 tahun nggak ketemu.

Music is all around us. All you have to do is listen…adalah kalimat terakhir Evan di ending film.
Yang bisa dipetik : Musik ternyata mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari dan kalau kita punya rasa percaya dan optimis, nggak peduli kata orang, kita tetap memegang teguh keyakinan itu dan berusaha, maka apa yang kita inginkan pasti akan terwujud.

Two thumbs up deh! (jempol kaki juga dipakai, hehe…)

Pemain : Keri Russel, Freddie Highmore, Jonathan Rhys Meyers, Robin Williams

0 comments:

Poskan Komentar