Kadang lagu bisa mencerminkan hati seseorang, dilihat dari lirik-lirik lagunya. Saya percaya itu.
Lagu patah hati, bahagia atau apapun itu, ketika momennya pas ada dan sesuai dengan lirik lagu pasti jadi merasa "itu lagu mewakili perasaan deh" :D
Contohnya nih, kalau perasaan lagi sedih atau lagi mellow-mellow sendiri, terus (pinjem istilahnya Raditya Dika) sampai pengen garuk-garuk tanah (ops...jangan sampai cacingan, habis main tanah langsung cuci tangan, wkwkwk) pengen banget dengerin lagunya Astrid yang berjudul Tentang Rasa. Ini lagu gak bosen-bosen didengerin deh...
Dan.........
Lagu ini (mp3-nya) diberikan seseorang buat saya lewat email kemarin...katanya lirik mewakili perasaan dia buat saya...*Oooohhhhhh...*
Terimakasih ya.....(I Know Your Heart)....^^
tapi ternyata lagunya emang lumayan bagus kok!
Dari Five Minutes Judulnya Sumpah Mati...
Read More ..
skip to main |
skip to sidebar

Andaikan saya jadi bu Sri Mulyani, saya akan menggunakan seluruh ilmu dan pengalaman yang saya miliki untuk kemajuan bangsa Indonesia ini. Tak peduli apa pun tanggapan orang lain, selama yang saya lakukan benar dan bukan untuk kepentingan pribadi, maka akan tetap saya lakukan.
Tetap tegar berdiri dan tersenyum di tengah cobaan yang menghadang, walaupun cercaan, hujatan atau makian datang dari bangsa yang saya cintai. Saya hanyalah manusia biasa yang tak sempurna, tapi saya akan selalu memberikan lebih daripada yang diminta. Tapi ketika hasil kerja keras yang saya lakukan tetap tidak dihargai oleh bangsa ini, lalu apa yang saya harus lakukan? Apakah saya harus menjadi pesakitan di negara yang saya cintai ini, menyia-nyiakan kemampuan saya hanya untuk memuaskan orang-orang serakah dan "haus" kekuasaan?
Ketika ada tawaran lain yang datang sebagai wujud apresiasi atau penghargaan atas apa yang saya lakukan di negara ini, apakah harus ditolak karena mengatasnamakan nasionalisme? Lalu dimanakah nasionalisme mereka yang mengaku terhormat tapi hanya menjadi penjarah di negerinya sendiri?
Ah...saya cuma berandai-andai kalau saya menjadi bu Ani. Secara pribadi saya sedih kalau menteri keuangan terbaik Asia tahun 2006 menurut Emerging Markets ini harus melepas jabatannya yang sudah 5 tahun ini diamanatkan pada beliau. Tak ada yang seperti beliau. Seseorang yang berani dalam mengambil keputusan dan tak gampang di"setir" oleh pihak manapun. Karena sifat itulah yang mungkin membuat beliau tidak disukai pihak tertentu.
Mungkin memang ada sedikit rasa subyektif dalam penilaian saya. Bagi saya beliau adalah seorang wanita cerdas dan tangguh. Tapi bukan berarti hal itu yang dominan dalam penilaian saya terhadap beliau. kinerja dan hasil kerjanya lah yang semakin membuat saya terkagum-kagum dengan beliau. Profesional dan memiliki integritas dalam pekerjaannya. Walaupun banyak yang menghujat dan mencaci beliau karena kasus Century, saya percaya pasti beliau sudah memiliki pertimbangan ketika memutuskan memberikan bailout pada bank Century tersebut. Yang jelas Indonesia tidak terpuruk di jurang krisis ekonomi, kalaupun ada cacat dalam pengambilan keputusan tersebut, toh tetap manusia biasa yang bisa salah dalam perhitungan.
Beliau lah yang membawa perubahan dalam kementrian yang dipimpinnya. Reformasi Birokrasi namanya. Hingga saat ini pun proses reformasi Birokrasi itu terus bergulir terutama di Ditjen Pajak. DJP emiliki moto PASTI yaitu Profesional, Inovasi, Team Work dan Integrity (Integritas) sebagai landasan dalam bekerja. Ketika masyarakat mulai mengapresiasi perubahan ini justru muncul batu sandungan bernama "gayus". Lalu secara menghebohkan bak infotainment para stasiun tv berita membuat berita yang memihak dan menggiring opini masyarakat ke arah yang negatif. Hasilnya? masyarakat jadi berpikir kalau semua pegawai pajak adalah koruptor. Menggeneralisir bahwa semuanya sama seperti gayus. Hahaha...lucu sekali (tertawa miris) kalau masih ada yang berpikiran picik seperti itu. Bagaimana kalau ada dokter yang malpraktik, apakah langsung membuat kesimpulan kalau semua dokter yang ada di Indonesia ini payah? Nggak kan? Sekali lagi bu Ani menjadi sorotan akibat kasus "Gayus".
menjadi manusia yang cerdas, profesional dan jujur mungkin sudah tidak memiliki tempat di negeri ini, negara ini cuma jadi "sapi perah" bagi pihak tertentu, cuma bisa NATO alias No Action Talk Only. Bu Sri Mulyani menjadi contoh setelah dulu Pak Habibie yang cerdas pun tak diberi apresiasi yang layak di sini. Sampai kapan kita jadi bangsa terpuruk dan tak bisa maju? Mungkin negara tetangga tertawa-tawa melihat kelakuan bangsa ini. kita bisa jadi bangsa yang besar tapi ketika kita cuma bisa berkubang dalam satu masalah, berdebat tanpa ada solusi itu cuma membuang waktu dan tenaga. Kesadaran dalam diri sendiri yang penting.
saya tak mengenal beliau, tapi sempat mendengarkan beliau berpidato ketika menyambut para calon CPNS hasil rekruitmen tahun 2008 di Depkeu pada Januari 2009 silam di Gedung Dhanapala Depkeu. Berkali-kali Beliau menyampaikan rasa bangganya atas kehadiran para calon CPNS.Perasaan bangga seorang Ibu yang menjunjung tinggi integritas. Beliau yang mengatakan “Siapapun Anda, yang merasa ada di sini karena titipan, lebih baik anda keluar sekarang..!!!” lalu beliau yang menitipkan loyalitas, integritas, kompetensi dan dedikasi yang tanpa cacat di pundak masing-masing, dan pesannya untuk “beri lebih dari apa yang diminta” yang menjadi mottonya dalam bekerja.
Beliau lah wajah Srikandi. Tanpa beliau mungkin menjadi kehilangan yang besar bagi negeri ini tapi negeri ini perlu diberi sedikit "pelajaran" agar tersadar dan jangan sampai kita cuma tergantung pada pemimpinnya saja, semoga kelak akan ada pemimpin yang bisa membawa perubahan.
Sebagai tambahan nih, berikut ini adalah kutipan dari pidato yang beliau sampaikan pada saat memberikan Kuliah Umum di Ritz Carlton Pacific Place, Selasa malam, 18 Mei 2010...
.........Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan anda tidak mau............
.....Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.............
.............. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.
Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, "Jangan pernah putus asa mencintai republik." Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.
Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.
Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.
Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.
.........Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. (applause)
Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. Terimakasih.............
Jika disimak baik-baik potongan pidato beliau di atas, tentu siapa yang tak meragukan kapabilitasnya sebagai seorang pejabat publik sekaligus seorang individu yang cerdas, berpendirian kuat dan tegas.
Itulah alasan mengapa pada perpisahannya 20 Mei 2010 ini ada 1000 mawar untuk Sri Mulyani. Ada kecintaan dan rasa hormat pada sosok beliau dari para bawahannya. Tapi berkali-kali beliau juga berpesan agar tetap menjalankan tugas, bekerja dan melanjutkan reformasi birokrasi walaupun tanpa beliau. Memang seharusnya seperti itu. Beliau meletakkan pondasi yang kokoh dan selayaknya untuk terus dipelihara dan dibangun.
Semoga sukses di kancah Internasional bu...tetaplah berikan yang terbaik bagi negeri yang kita cintai ini dimanapun anda berada....:)
Read More ..

" Usiaku tujuh belas tahun waktu akhirnya aku yakin aku jatuh cinta pada Mas Erwin.
Ini bukan pemberontakan melawan mas Yusa, sebab cintaku pada mas Erwin adalah jenis cinta yang manis dan sederhana. Cinta yang tidak menghendaki apa-apa dari yang kucintai. Cinta yang penuh kesadaran tak akan pernah memperoleh pemenuhan. Cinta tanpa tujuan memiliki, apalagi menguasai. Cinta yang tanpa harapan, tanpa muara...tapi toh tetap terasa manis dalam segala keterbatasannya. "
Kata-kata diatas dikutip dari novel Alita@First karangan Dewie Sekar. Aku selesai baca novel ini akhir weekend kemarin. Walaupun belinya sih udah beberapa minggu sebelumnya, tapi harus masuk antrian dibaca setelah novel yang lainnya kelar dibaca. Maklumlah lagi keranjingan beli buku-buku secara online hihihi...selain dapat diskon, kan lumayan gak keluar ongkos transport ke toko buku. Tapi kadang-kadang ya rindu juga dengan suasana toko buku, puas ngelihatin dan curi-curi buat "ngintip" baca buku di toko walaupun gak beli...hehee...^__^V
Okey, kayaknya sudah melantur kemana-mana omonganku. Tadi mau ngomongin apa dan sampai mana ya? :D *dikemplak pake sandal*
Oya...novel Alita@First...
Hmm...tahu kah anda (sok serius nih, red) Dewie Sekar? Kalau suka baca chicklit dalam negeri pasti pernah baca atau seenggaknya tahu novel-novel yang pernah dibuat oleh mbak Dewie ( sok akrab banget yah? ;D ) seperti Zona@Tsunami, Perang bintang atau Zona@Last dan Langit Penuh Daya.
Aku suka banget novel Perang Bintang. Bahkan sampai dua kali baca saking sukanya. Sejak itu aku baca juga novelnya yang lain. Awal Februari lalu, ketika browsing buku di toko buku online, akhirnya lihat kalau ada novel terbarunya keluar. Alita@First.
Waktu baca sinopsis di sampul belakangnya, udah ngerti bagaimana garis besar ceritanya. Alita jatuh cinta dengan sahabat kakaknya yaitu Erwin sejak dia masih SMP sedangkan saat itu Mas Yusa kakaknya dan Erwin duduk di bangku kuliah (kebayang dong jarak usianya) Namanya ABG pasti lah naksir-naksir gitu dengan sahabat kakak. Tapi perasaan itu lambat laun berubah menjadi cinta seiring pertumbuhannya menjadi gadis dewasa. Namun cintanya cuma bisa dipendam dalam hati tanpa seorangpun yang tahu bahkan kakak dan sahabat Alita. Apalagi orang-orang terdekatnya yang nota bene juga dekat dengan Erwin sudah mewanti-wanti agar Alita nggak jatuh cinta dengan Erwin karena si cowok sudah terkenal dengan reputasinya sebagai Playboy.
Lalu Intinya?
Tokoh Alita mungkin akan mengingatkan dengan karakter yang ada di dalam kehidupan kita sehari-hari. bahkan jangan-jangan mirip dengan kita ya? dalam hal memendam cinta, hihihi....
Alita adalah perempuan biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Baca novel ini bikin aku senyum-senyum sendiri karena, " hey, ada sisi Alita yang sama dengan aku" atau " wah, kita juga pasti pernah ngerasain seperti yang dihadapi Alita".
Intinya, segala masalah yang ada di novel ini terasa alami dan nggak dibuat-buat atau lebay.com :D
Ada juga tokoh Yusa, kakak Alita yang begitu sayang dengan adiknya. Cerdas, tampan namun pendiam dan nggak neko-neko. Erwin si pria yang di jatuhi cinta oleh Alita, seorang pria yang juga cerdas dan -kalau kata Alita- punya kharisma yang bikin cewek-cewek jadi terpesona. Sayangnya, kelebihan Erwin itu dimanfaatkan untuk menerima setiap perempuan yang datang padanya.
Jalan cerita yang ternyata mengejutkan di seperempat bagian akhir novel, ternyata membuat aku pun berpikir bahwa, memang begitulah hidup, kadang ada yang sad ending dan penuh ironi. Tapi toh hidup tetap berjalan bukan? setiap peristiwa yang terjadi pasti ada hikmah dibalik itu semua.
Cerita novel pun nggak perlu harus happy ending, karena di bagian akhir yang sad ending itu akan ditemukan suatu pesan dan makna dari hal-hal yang sudah terjadi.
Nice Story, buat ngingetin kita soal hidup, apa yang kita impikan dan apa yang akan kita lakukan ketika impian itu tiba-tiba menghilang sedetik kemuadian.
Btw, novel ini masih ada kelanjutannya...ternyata...siapin tissue lagi dong kalau mau baca...:)
Read More ..

Bangkok Traffic Love story (2009) adalah film drama asal Thailand. Dibumbui dengan komedi yang nggak terkesan asal "taruh" alias natural di filmnya. Asli, nonton film ini bikin aku ketawa atau cengar-cengir. Dan ceritanya itu, punya alur yang bagus sehingga yang menonton nggak akan lihat jalan cerita yang monoton atau membosankan. Apalagi pemainnya itu, cakep bo! hahaha.....
Kenapa judulnya Bangkok Traffic Love Story? bisa jadi karena dalam cerita ini kedua tokoh utamanya lebih sering ketemu di dalam kereta yang mereka tumpangi ketika pergi atau pulang kerja, dan tokoh utama wanitanya pedekate-in si pria ya di kereta ini...Selain itu kita bisa lihat bagaimana lalu lintas kota Bangkok yang ternyata hampir sama dengan kota Jakarta. Macet! Tapi Bangkok jelas lebih maju karena punya kereta monorail. (Kapan ya di Jakarta bisa seperti itu)

Mei Li ( Sirin Horwang) adalah perempuan berusia 30 tahun yang belum pernah pacaran karena selalu sibuk bersama sahabatnya. Ketika sahabatnya paling dekatnya menikah, Li merasa sedih dan mabuk-mabukkan pada pesta pernikahan sahabatnya. Adegan lucu pertama -----> Li muntah di baju sahabatnya, dan tidur di ranjang pengantin sahabatnya.
Pulang dari hotel masih dalam keadaan sempoyongan, Li mengendarai mobil. Ketika dia hampir kecelakaan, dia Bertemu dengan pria tampan bernama Loong (Theeradeth Wongpuapan) yang bekerja sebagai teknisi kereta monorail. li langsung naksir Loong. Tapi gara-gara ulahnya bikin mobil rusak, sang ayah langsung mencabut ijin membawa mobil ke kantor. Karena suatu kejadian Li dan Loong bertemu lagii tapi Li masih ragu untuk mendekati Loong.
Mereka lalu bertemu lagi di atas kereta ketika Li akan pulang kantor. Akhirnya, Li memutuskan untuk mendekati pria yang dia taksir itu. Tapi karena dia belum punya pengalaman pedekate dengan pria, banyak adegan lucu saat dia berusaha mendekati Loong yang masih terkesan "cool" itu.


mungkin endingnya bisa ditebak ya....tapi jalan ceritanya yang unik dan alur yang dinamis akan membuat penontonnya nggak akan bosan kok. Akting pemainnya juga bagus. Kita akan dibuat tertawa, gemas dan terharu selama 1,5 jam. Ah...what a romantic movie!
nggak heran kalau film ini jadi film terlaris tahun 2009 di Thailand dan memenangkan ajang penghargaan film di sana.
kalau di Indonesia, mungkin film ini bisa dibandingkan dengan fimnya si mbak Dian Sastrowardoyo dan mas Nicholas Saputra, Ada Apa Dengan Cinta (2002). Sama-sama film drama yang bikin geli ketawa dan terharu sekaligus.
Seandainya saja para filmmaker di Indonesia mau bikin lagi film seperti itu. Punya jalan cerita dan karakter tokoh yang kuat, pasti laku deh daripada film-film Indonesia sekarang yang temanya antara horor-gak-jelas atau mau mamerin body pemain wanitanya aja....
Eh, ada juga blog yang nge-review film ini, silahkan disimak juga :
http://layarbesar.wordpress.com/2010/03/30/bangkok-traffic-love-story-2009/
dan
http://bicarafilm.com/baca/2010/04/16/bangkok-traffic-love-story-cerita-klasik-yang-dikemas-menggelitik.html
Selamat menonton yaaaa....\^o^/

Read More ..

Lihat artikel di Kolom Kita punya detik.com yang judulnya ke Pasar Yuk jadi inget kemarin aku juga pasar. hehe...trus apa hubungannya??
Hubungannya adalah.....cuma pengen cerita aja sih, hhihihi....
Yang jelas, waktu baca artikel itu, aku juga merasakan hal yang serupa. Selama ini jarang banget mau ke pasar. Dari jaman masih kecil sampai udah gede seperti sekarang, males aja mau diajak ke pasar. Alasannya cuma satu sih, pasar itu pasti kotor, jorok, bau, dan becek...dulu pernah dipaksa nemenin mama ke pasar. waktu melewati lapak yang isinya ikan, wahh...perut langsung mual-mual deh. habis itu kapok diajak ke pasar. dan akhirnya bikin deal dengan mama. Urusan masak di dapur aku mau banget bantuin tapi urusan beli bahan memasak di pasar, itu urusannya mama atau si bibi yang bantu-bantu di rumah, hihihi....
Waktu kuliah juga jarang banget ke pasar. kalau ke pasar paling cuma beli sayur dan buah. Dulu mikirnya mending beli makanan aja deh daripada masak. Apalagi untuk ukuran di Jogja yang harga makanannya masih murah meriah....( whoaaa...jadi mupeng pengen tinggal di sana lagi...)
Tapi sekarang, living in the mother of city (hihihi...julukan buatan sendiri) jakarta, bikin kantong bolong. makanan lumayan mahal. Lumayan kan bisa berhemat dengan masak sendiri tiap weekend. Apalagi sekarang harus berhemat nih. Gara-gara 2 minggu kemarin udah gila-gilaan belanja alias jadi shopaholic. Minggu ini di rem dulu ah hasrat belanja dan jalan-jalannya. (hayooo..ingat nabung...nabung..)
Jadilah kemarin berbelanja di pasar tradisonal dekat kost. Wah biaya belanja sayur dan ikannya seharga dengan satu porsi makanan kalau beli di luar, hehe...lumayan kan apalagi belanjaannya bisa buat makan 2 hari...hhmmm...
dan..hey, ternyata nggak semua pasar kotor dan bau kok. Walau masih agak berantakan lapak-lapaknya, tapi masih bisa dibilang lumayan lah. dan, kalau di awal-awal ke pasara pasti pusing karena ramai dan penuhnya pasar, sekarang sudah mulai terbiasa lah. dan belajar tawar menawar lah...apalagi kan sebagai seorang gadis (tssaahh...) yang pasti akan berperan sebagai ibu rumah tangga....(duilee...) Jadi harus belajar buat jadi ibu-ibu yang ke pasar, lalu memasak sendiri hihihi...
Dulu, lebih suka belanja di swalayan dan supermarket karena lebih nyaman. Tapi ternyata ada juga pasar tradisonal yang dibuat lebih modern dan nyaman. Mudah-mudahan semua pasar tradisional bisa seperti itu ya....agar para pedagang-pedagang di pasar tradisional nggak lenyap karena serbuan swalayan atau supermarket dengan merk luar negeri. kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa membantu mereka. Makanya ayo kita tetap berbelanja di pasar ya....
Apalagi sekarang lagi pengen menerapkan weekend murah meriah paling nggak 2 kali dalam sebulan. kayak apa sih?
Simpel aja sih, kalau liburan weekeng gini, jangan jalan-jalan atau keluar. cukup di kost aja, masak sendiri terus ngisi waktu dengan baca novel atau nonton dvd. This is it! Liburan murah ala Farah Quinn eh salah, ala wiwi...hahaha....
Okaylah, perut mulai keroncongan. Sekarang mau masak nasi goreng dulu yaaa.....
Nb. gambar diambil dari artikel yg disebut diatas.
Read More ..

hidup itu sebuah pilihan
hidup ibarat sebuah perjalanan
sounds familiar?
yup, kita pasti sering mendengar kata-kata itu, entah di buku, film atau di televisi.
Bosan. mungkin itu yang terlintas.
Tapi pernahkah kita berpikir bahwa, ada di suatu waktu, saat kita merenung lagi (atau melamun :D ), maka kita meresapi kata-kata itu.
Hidup itu pilihan, tentang bagaimana pilihan itu akan menentukan perjalanan hidup kita ke depan. Tujuan perjalanan itu juga suatu pilihan. Kita juga memilih bagaimana cara kita menjalani hidup ini.
Haduh, kacau ya bahasaku?
Hmm....mungkin bisa diibaratkan hidup adalah sebuah mobil, tentu kita punya tujuan waktu naik mobil. Jalan yang kita lalui waktu naik mobil bisa diibaratkan waktu yang berjalan. Sebelum menjalankan mobil, kita butuh oli, bensin, serta mesindan ban mobil yang dalam kondisi baik, agar perjalanan kita lancar sampai tujuan.
Kadang jalan yang kita lalui adalah jalan tol yang mulus, kadang juga jalan berbatu dan penuh kerikil tajam sehingga kita perlu hati-hati berjalan. Ibaratkan itu adalah suatu ujian hidup.
Kita senang saat berkendara di jalan tol yang mulus dan lurus. dan tidak suka ketika berjalan di atas jalan berbatu.
Tapi tahukah kamu bahwa kita tetap harus waspada terhadap jalan yang mulus dan lurus? kita terlena dan tak menyadari bahwa kecepatan kita bertambah, dan kita terkantuk-kantuk saking mulusnya perjalanan kita. Tanpa kita sadari mungkin kita hampir menabrak mobil lain di depan kita.
Bandingkan kalau kita berkendara di jalan yang kasar dan berbatu, kita selalu waspada dan hati-hati. Pelan namun pasti, walau kadang menggerutu dan mengumpat, tapi kita selalu bersabar hingga kita sampai di tujuan dengan perasaan bahagia.
Ibaratnya kita hidup yang mulus dan lurus. bisa jadi itu adalah cobaan yang sedang kita alami. tentang bagaimana kita menghadapi segala rejeki dan kebahagiaan yang berlimpah. Akankah kita menjadi terlena dan lupa?
Kalau kita diuji dengan hidup yang seperti jalan kasar dan berbatu, benarkah itu adalah suatu cobaan? kita diuji untuk terus mengingatNya dan menghadapi segalanya dengan sabar dan tawakal. dan percaya bahwa keajaiban itu akan datang. karena Allah menyayangi kita. Karena Allah takkan memberikan cobaan yang tak bisa dihadapi oleh kita, manusia....
Just be brave....
for life....
Read More ..


Becoming Jane judulnya. Sebuah film klasik yang berlatar belakang Inggris di abad 18an. Kisahnya tentang jane Austen seorang penulis novel terkenal. Tahu Pride and Prejudice? Nah, kalau bilang itu judul film yang dibintangi oleh Keira Knightley, yup bener bgt, tapi nggak 100% benar. Karena filmnya sendiri disadur dari novel dengan judul yang sama. Nah...jane Austen si penulis novel terkenal itu dibuatkan film berdasarkan kisah hidupnya, dan asal muasal ide novel Pride and Prejudice dibuat.
Becoming Jane (2007) dibintangi oleh si manis Anne Hathaway dan John Mcavoy (FYI, suka cowok ini gara2 main di film Penelope,hihihi)
Why this movie stay in my head so badly? Let me tell you...
First thing is...because i love classic movie. Entah kenapa senang aja dengan film yang berlatar belakang abad pertengahan. Kisah percintaannya manis dan dalam (-ups sorry-tanpa bumbu sex yang gamblang) walau kadang cerita-ceritanya selalu berakhir dengan tragis. (hahaha..pasti heran kok sukanya dengan film-film yang sad ending).
Dulu waktu masih belasan tahun alias abegeh (anak baru gedeh) pernah di”cekoki” film Wuthering Height yang ceritanya kelam. But, I love it someway dan (lagi-lagi) diangkat dari sebuah novel. Sejak itu (mungkin) aku jadi menyukai film-film dengan latar klasik dan yang perlu digaris bawahi adalah jalan cerita dan karakter tokoh yang kuat (cateeett..hehe) Setelah itu beberapa judul film klasik mulai menambah koleksi film “have been watched” punyaku. Dan Pride and Prejudice yang punya kisah happy ending itu jadi salah satu favorit beberapa tahun lalu.
Wah, tadi mau cerita film Jane Austen malahan jadi melebar. Okey, back to the topic....
Jane Austen dilahirkan pada 16 December 1775 (Gilee, bayangin aja waktu itu msh jaman Revolusi Prancis dan Amerika Serikat baru terbentuk) Selama hidupnya dia menulis enam buah novel, yang pertama Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Mansfield Park, Emma, Northanger Abbey, dan Persuasion. Waktu tadi Googling si Jane ini, ternyata semua novelnya sudah diangkat ke layar lebar. Tapi yang paling terkenal dan filmnya laris ya Pride and Prejudice tadi.
Si Mr.Darcy yang tampan sinis dan cuek di Pride and Prejudice merupakan tokoh yang diadaptasi dari tokoh nyata seorang pria yang bernama Tom Lefroy yang dekat dengan Jane Austen semasa muda. Nah, kisah mereka inilah yang diangkat dalam film Becoming jane. Kalau sudah nonton Pride and Prejudice, lalu nonton film ini pasti jadi paham kalau kisahnya lah yang dijadikan inspirasi dalam novel itu. Seperti kalimat terakhir dalam film Becoming jane, Inspirasi datang dari pengalaman hidup (kurang lebihnya begitu, hehe)
Yang "agak" mengusik pikiran setelah nonton film ini adalah, apakah kisah itu benar-benar nyata tanpa tambahan bumbu cerita? Well, sayang sekali endingnya tidak happy...(walau gak bisa dibilang sad ending juga). Yang jelas, aku jadi berpikir saat si Jane memutuskan nggak jadi kawin lari dengan Tom Lefroy (karena keluarga tidak merestui) dengan alasan nggak mau jadi beban bagi Tom yang waktu itu baru lulus sekolah dan dihidupi dari hutang kepada pamannya yang kaya. Apalagi Tom ternyata harus menghidupi adik-adiknya. Nah, kalau disini ternyata cinta bisa berbenturan dengan logika, biasanya si tokoh pria yang lebih logic daripada wanita. tapi Jane dengan berat hati memilih untuk meninggalkan Tom. Padahal akhirnya, beberapa tahun kemudian Tom telah menjadi Pengacara sukses dan kaya dan memiliki anak, sedangkan Jane juga sukses dengan novel-novelnya walaupun tidak pernah menikah seumur hidupnya (mungkinkah dia masih mencintai Tom?).
Ironinya adalah, apakah seandainya saat itu Jane memutuskan tetap kawin lari dengan Tom, apakah mereka tetap akan menjadi seperti saat mereka tidak bersama? atau simpelnya, bisa tetap sukses kalau mereka memutuskan tetap bersama???
Ah, bisa jadi Jane Austen tidak akan dikenang sepanjang masa berkat novel-novelnya yang terkenal itu. Tapi Cinta jadi korbannya? atau jadi sumber inspirasinya?
Read More ..

seandainya...
kau bisa kugapai...
kuraih...
kumiliki...
seutuhnya...
Ku tahu aku memiliki hatimu
tapi tidak dengan ragamu
Walau raga kita jauh
Namun hati kita berdekatan
Tapi tetap saja tak bisa untuk ku meraih asa
tentang kita
Tiap waktu kubertahan
dengan perasaan yang terus tumbuh
Entah sampai kapan aku bisa bertahan
Hanya kamu yang bisa mengerti
Memahami aku
Mengingatkanku di kala aku lupa
Menasehatiku di kala aku salah
menertawai segala kecerobohanku
Menyemangati saat aku mulai terpuruk
Mengagumi kelebihan sekaligus kekuranganku
Teman canda dan tawa di sela waktu yang terasa membunuhku
Aku tahu kamu menyayangiku apa adanya...
Dan entah kenapa kita selalu terhubung
seolah-olah ada telepati di antara kita
Kalau begitu, sanggupkah aku pergi merelakanmu
Mengorbankan perasaan yang mengakar ini?
Jika kumemilikimu
Batin ini selalu berteriak, ini salah
Tapi bisakah aku menolak apa yang kamu tawarkan?
Jakarta, 17 Jan 2010
Gambar diambil dari sini Read More ..
This is just a little story in the big journey of life ^___^
RSS Feed
Kamis, Juni 24, 2010
Kamis, Juni 03, 2010
Terus Berjuang.......
Kemarin saya dapat notification di facebook....
ternyata adik paling kecil saya nge-tag notes di FB...
Waktu baca note-nya, hemm....ternyata hasil didikan saya berhasil, hehe...
Tapi kok sekarang gurunya kalah ya sama anak muridnya hihihi...karena jujur saja waktu baca tulisannya yang begitu terinspirasi. two thumbs up lah! Jadi berpikir, kenapa saya sendiri sekarang jadi "mandul" bikin tulisan ya...belum ada inspirasi atau ilham buat nulis.
Note FB adik saya itu hasil inspirasi dari perjuangannya saat ini demi meraih cita-citanya. Semoga perjuangannya untuk meraih cita-cita berhasil! ^__^
Good luck to you my sister!!!
Semoga ini bisa jadi inspirasi juga buat kita semua ya...
"Terus berjuang"
bilang ini cuma mimpi saja,
bilang ini cuma khayalan ku saja...
kenapa semua yg ku coba tuk ku raih,
tak pernah tersentuh sedikitpun?
apa yg salah?
aku tidak melupakan Tuhan,
aku selalu berusaha,
aku selalu berdoa,
aku tidak pernah berbuat jahat...
Lalu,
apa yg harus aku lakukan sekarang?
semua ini hanya membuatku patah...
aku ingin berhenti,
tapi aku tidak bisa,
karena aku harus terus,
terus memperjuangkan impianku,
walau airmata dan otak ini sudah tidak mampu tuk berusaha...
Read More ..
ternyata adik paling kecil saya nge-tag notes di FB...
Waktu baca note-nya, hemm....ternyata hasil didikan saya berhasil, hehe...
Tapi kok sekarang gurunya kalah ya sama anak muridnya hihihi...karena jujur saja waktu baca tulisannya yang begitu terinspirasi. two thumbs up lah! Jadi berpikir, kenapa saya sendiri sekarang jadi "mandul" bikin tulisan ya...belum ada inspirasi atau ilham buat nulis.
Note FB adik saya itu hasil inspirasi dari perjuangannya saat ini demi meraih cita-citanya. Semoga perjuangannya untuk meraih cita-cita berhasil! ^__^
Good luck to you my sister!!!
Semoga ini bisa jadi inspirasi juga buat kita semua ya...
"Terus berjuang"
bilang ini cuma mimpi saja,
bilang ini cuma khayalan ku saja...
kenapa semua yg ku coba tuk ku raih,
tak pernah tersentuh sedikitpun?
apa yg salah?
aku tidak melupakan Tuhan,
aku selalu berusaha,
aku selalu berdoa,
aku tidak pernah berbuat jahat...
Lalu,
apa yg harus aku lakukan sekarang?
semua ini hanya membuatku patah...
aku ingin berhenti,
tapi aku tidak bisa,
karena aku harus terus,
terus memperjuangkan impianku,
walau airmata dan otak ini sudah tidak mampu tuk berusaha...
Read More ..
Senin, Mei 24, 2010
Film-film minggu ini
Wah...minggu ini banyak film-film blockbuster yang tayang di bioskop...
hhmmm, kebetulan minggu ini ada weekend panjang, jadi bisa dimanfaatkan untuk nonton di bioskop kan...so please enjoy it...
Mau nonton yang mana nih......
1. Robin Hood
Film ini dibintangi oleh Russel Crowe dan Cate Blanchett. Sudah tayang di bioskop.
2. Shrek Forever After
This is one of my favourite cartoon movies...:)
3. Prince of Persia: The Sands of Time
Dibintangi olehh Jake Gyllenhaal, diangkat dari video game terkenal dengan judul yang sama. Baru tayang tanggal 27 Mei nanti...pas momennya dengan libur panjang akhir pekan ini kan? :D
4. Daybreakers
5. Kites
Film ini dibintangi Hrithik Roshan (one of handsome man in Bollywood)
Nggak ada salahnya nonton film di luar genre Hollywood...:p
Read More ..
hhmmm, kebetulan minggu ini ada weekend panjang, jadi bisa dimanfaatkan untuk nonton di bioskop kan...so please enjoy it...
Mau nonton yang mana nih......
1. Robin Hood
Film ini dibintangi oleh Russel Crowe dan Cate Blanchett. Sudah tayang di bioskop.
2. Shrek Forever After
This is one of my favourite cartoon movies...:)
3. Prince of Persia: The Sands of Time
Dibintangi olehh Jake Gyllenhaal, diangkat dari video game terkenal dengan judul yang sama. Baru tayang tanggal 27 Mei nanti...pas momennya dengan libur panjang akhir pekan ini kan? :D
4. Daybreakers
5. Kites
Film ini dibintangi Hrithik Roshan (one of handsome man in Bollywood)
Nggak ada salahnya nonton film di luar genre Hollywood...:p
Read More ..
Kamis, Mei 06, 2010
Andaikan Saya Jadi Bu Sri Mulyani...

Andaikan saya jadi bu Sri Mulyani, saya akan menggunakan seluruh ilmu dan pengalaman yang saya miliki untuk kemajuan bangsa Indonesia ini. Tak peduli apa pun tanggapan orang lain, selama yang saya lakukan benar dan bukan untuk kepentingan pribadi, maka akan tetap saya lakukan.
Tetap tegar berdiri dan tersenyum di tengah cobaan yang menghadang, walaupun cercaan, hujatan atau makian datang dari bangsa yang saya cintai. Saya hanyalah manusia biasa yang tak sempurna, tapi saya akan selalu memberikan lebih daripada yang diminta. Tapi ketika hasil kerja keras yang saya lakukan tetap tidak dihargai oleh bangsa ini, lalu apa yang saya harus lakukan? Apakah saya harus menjadi pesakitan di negara yang saya cintai ini, menyia-nyiakan kemampuan saya hanya untuk memuaskan orang-orang serakah dan "haus" kekuasaan?
Ketika ada tawaran lain yang datang sebagai wujud apresiasi atau penghargaan atas apa yang saya lakukan di negara ini, apakah harus ditolak karena mengatasnamakan nasionalisme? Lalu dimanakah nasionalisme mereka yang mengaku terhormat tapi hanya menjadi penjarah di negerinya sendiri?
Ah...saya cuma berandai-andai kalau saya menjadi bu Ani. Secara pribadi saya sedih kalau menteri keuangan terbaik Asia tahun 2006 menurut Emerging Markets ini harus melepas jabatannya yang sudah 5 tahun ini diamanatkan pada beliau. Tak ada yang seperti beliau. Seseorang yang berani dalam mengambil keputusan dan tak gampang di"setir" oleh pihak manapun. Karena sifat itulah yang mungkin membuat beliau tidak disukai pihak tertentu.
Mungkin memang ada sedikit rasa subyektif dalam penilaian saya. Bagi saya beliau adalah seorang wanita cerdas dan tangguh. Tapi bukan berarti hal itu yang dominan dalam penilaian saya terhadap beliau. kinerja dan hasil kerjanya lah yang semakin membuat saya terkagum-kagum dengan beliau. Profesional dan memiliki integritas dalam pekerjaannya. Walaupun banyak yang menghujat dan mencaci beliau karena kasus Century, saya percaya pasti beliau sudah memiliki pertimbangan ketika memutuskan memberikan bailout pada bank Century tersebut. Yang jelas Indonesia tidak terpuruk di jurang krisis ekonomi, kalaupun ada cacat dalam pengambilan keputusan tersebut, toh tetap manusia biasa yang bisa salah dalam perhitungan.
Beliau lah yang membawa perubahan dalam kementrian yang dipimpinnya. Reformasi Birokrasi namanya. Hingga saat ini pun proses reformasi Birokrasi itu terus bergulir terutama di Ditjen Pajak. DJP emiliki moto PASTI yaitu Profesional, Inovasi, Team Work dan Integrity (Integritas) sebagai landasan dalam bekerja. Ketika masyarakat mulai mengapresiasi perubahan ini justru muncul batu sandungan bernama "gayus". Lalu secara menghebohkan bak infotainment para stasiun tv berita membuat berita yang memihak dan menggiring opini masyarakat ke arah yang negatif. Hasilnya? masyarakat jadi berpikir kalau semua pegawai pajak adalah koruptor. Menggeneralisir bahwa semuanya sama seperti gayus. Hahaha...lucu sekali (tertawa miris) kalau masih ada yang berpikiran picik seperti itu. Bagaimana kalau ada dokter yang malpraktik, apakah langsung membuat kesimpulan kalau semua dokter yang ada di Indonesia ini payah? Nggak kan? Sekali lagi bu Ani menjadi sorotan akibat kasus "Gayus".
menjadi manusia yang cerdas, profesional dan jujur mungkin sudah tidak memiliki tempat di negeri ini, negara ini cuma jadi "sapi perah" bagi pihak tertentu, cuma bisa NATO alias No Action Talk Only. Bu Sri Mulyani menjadi contoh setelah dulu Pak Habibie yang cerdas pun tak diberi apresiasi yang layak di sini. Sampai kapan kita jadi bangsa terpuruk dan tak bisa maju? Mungkin negara tetangga tertawa-tawa melihat kelakuan bangsa ini. kita bisa jadi bangsa yang besar tapi ketika kita cuma bisa berkubang dalam satu masalah, berdebat tanpa ada solusi itu cuma membuang waktu dan tenaga. Kesadaran dalam diri sendiri yang penting.
saya tak mengenal beliau, tapi sempat mendengarkan beliau berpidato ketika menyambut para calon CPNS hasil rekruitmen tahun 2008 di Depkeu pada Januari 2009 silam di Gedung Dhanapala Depkeu. Berkali-kali Beliau menyampaikan rasa bangganya atas kehadiran para calon CPNS.Perasaan bangga seorang Ibu yang menjunjung tinggi integritas. Beliau yang mengatakan “Siapapun Anda, yang merasa ada di sini karena titipan, lebih baik anda keluar sekarang..!!!” lalu beliau yang menitipkan loyalitas, integritas, kompetensi dan dedikasi yang tanpa cacat di pundak masing-masing, dan pesannya untuk “beri lebih dari apa yang diminta” yang menjadi mottonya dalam bekerja.
Beliau lah wajah Srikandi. Tanpa beliau mungkin menjadi kehilangan yang besar bagi negeri ini tapi negeri ini perlu diberi sedikit "pelajaran" agar tersadar dan jangan sampai kita cuma tergantung pada pemimpinnya saja, semoga kelak akan ada pemimpin yang bisa membawa perubahan.
Sebagai tambahan nih, berikut ini adalah kutipan dari pidato yang beliau sampaikan pada saat memberikan Kuliah Umum di Ritz Carlton Pacific Place, Selasa malam, 18 Mei 2010...
.........Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan anda tidak mau............
.....Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.............
.............. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.
Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, "Jangan pernah putus asa mencintai republik." Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.
Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.
Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.
Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.
.........Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. (applause)
Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. Terimakasih.............
Jika disimak baik-baik potongan pidato beliau di atas, tentu siapa yang tak meragukan kapabilitasnya sebagai seorang pejabat publik sekaligus seorang individu yang cerdas, berpendirian kuat dan tegas.
Itulah alasan mengapa pada perpisahannya 20 Mei 2010 ini ada 1000 mawar untuk Sri Mulyani. Ada kecintaan dan rasa hormat pada sosok beliau dari para bawahannya. Tapi berkali-kali beliau juga berpesan agar tetap menjalankan tugas, bekerja dan melanjutkan reformasi birokrasi walaupun tanpa beliau. Memang seharusnya seperti itu. Beliau meletakkan pondasi yang kokoh dan selayaknya untuk terus dipelihara dan dibangun.
Semoga sukses di kancah Internasional bu...tetaplah berikan yang terbaik bagi negeri yang kita cintai ini dimanapun anda berada....:)
Read More ..
Selasa, April 27, 2010
Alita @ First

" Usiaku tujuh belas tahun waktu akhirnya aku yakin aku jatuh cinta pada Mas Erwin.
Ini bukan pemberontakan melawan mas Yusa, sebab cintaku pada mas Erwin adalah jenis cinta yang manis dan sederhana. Cinta yang tidak menghendaki apa-apa dari yang kucintai. Cinta yang penuh kesadaran tak akan pernah memperoleh pemenuhan. Cinta tanpa tujuan memiliki, apalagi menguasai. Cinta yang tanpa harapan, tanpa muara...tapi toh tetap terasa manis dalam segala keterbatasannya. "
Kata-kata diatas dikutip dari novel Alita@First karangan Dewie Sekar. Aku selesai baca novel ini akhir weekend kemarin. Walaupun belinya sih udah beberapa minggu sebelumnya, tapi harus masuk antrian dibaca setelah novel yang lainnya kelar dibaca. Maklumlah lagi keranjingan beli buku-buku secara online hihihi...selain dapat diskon, kan lumayan gak keluar ongkos transport ke toko buku. Tapi kadang-kadang ya rindu juga dengan suasana toko buku, puas ngelihatin dan curi-curi buat "ngintip" baca buku di toko walaupun gak beli...hehee...^__^V
Okey, kayaknya sudah melantur kemana-mana omonganku. Tadi mau ngomongin apa dan sampai mana ya? :D *dikemplak pake sandal*
Oya...novel Alita@First...
Hmm...tahu kah anda (sok serius nih, red) Dewie Sekar? Kalau suka baca chicklit dalam negeri pasti pernah baca atau seenggaknya tahu novel-novel yang pernah dibuat oleh mbak Dewie ( sok akrab banget yah? ;D ) seperti Zona@Tsunami, Perang bintang atau Zona@Last dan Langit Penuh Daya.
Aku suka banget novel Perang Bintang. Bahkan sampai dua kali baca saking sukanya. Sejak itu aku baca juga novelnya yang lain. Awal Februari lalu, ketika browsing buku di toko buku online, akhirnya lihat kalau ada novel terbarunya keluar. Alita@First.
Waktu baca sinopsis di sampul belakangnya, udah ngerti bagaimana garis besar ceritanya. Alita jatuh cinta dengan sahabat kakaknya yaitu Erwin sejak dia masih SMP sedangkan saat itu Mas Yusa kakaknya dan Erwin duduk di bangku kuliah (kebayang dong jarak usianya) Namanya ABG pasti lah naksir-naksir gitu dengan sahabat kakak. Tapi perasaan itu lambat laun berubah menjadi cinta seiring pertumbuhannya menjadi gadis dewasa. Namun cintanya cuma bisa dipendam dalam hati tanpa seorangpun yang tahu bahkan kakak dan sahabat Alita. Apalagi orang-orang terdekatnya yang nota bene juga dekat dengan Erwin sudah mewanti-wanti agar Alita nggak jatuh cinta dengan Erwin karena si cowok sudah terkenal dengan reputasinya sebagai Playboy.
Lalu Intinya?
Tokoh Alita mungkin akan mengingatkan dengan karakter yang ada di dalam kehidupan kita sehari-hari. bahkan jangan-jangan mirip dengan kita ya? dalam hal memendam cinta, hihihi....
Alita adalah perempuan biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Baca novel ini bikin aku senyum-senyum sendiri karena, " hey, ada sisi Alita yang sama dengan aku" atau " wah, kita juga pasti pernah ngerasain seperti yang dihadapi Alita".
Intinya, segala masalah yang ada di novel ini terasa alami dan nggak dibuat-buat atau lebay.com :D
Ada juga tokoh Yusa, kakak Alita yang begitu sayang dengan adiknya. Cerdas, tampan namun pendiam dan nggak neko-neko. Erwin si pria yang di jatuhi cinta oleh Alita, seorang pria yang juga cerdas dan -kalau kata Alita- punya kharisma yang bikin cewek-cewek jadi terpesona. Sayangnya, kelebihan Erwin itu dimanfaatkan untuk menerima setiap perempuan yang datang padanya.
Jalan cerita yang ternyata mengejutkan di seperempat bagian akhir novel, ternyata membuat aku pun berpikir bahwa, memang begitulah hidup, kadang ada yang sad ending dan penuh ironi. Tapi toh hidup tetap berjalan bukan? setiap peristiwa yang terjadi pasti ada hikmah dibalik itu semua.
Cerita novel pun nggak perlu harus happy ending, karena di bagian akhir yang sad ending itu akan ditemukan suatu pesan dan makna dari hal-hal yang sudah terjadi.
Nice Story, buat ngingetin kita soal hidup, apa yang kita impikan dan apa yang akan kita lakukan ketika impian itu tiba-tiba menghilang sedetik kemuadian.
Btw, novel ini masih ada kelanjutannya...ternyata...siapin tissue lagi dong kalau mau baca...:)
Read More ..
Minggu, April 18, 2010
Bangkok Traffic Love Story : Romantic Comedy Movie!

Bangkok Traffic Love story (2009) adalah film drama asal Thailand. Dibumbui dengan komedi yang nggak terkesan asal "taruh" alias natural di filmnya. Asli, nonton film ini bikin aku ketawa atau cengar-cengir. Dan ceritanya itu, punya alur yang bagus sehingga yang menonton nggak akan lihat jalan cerita yang monoton atau membosankan. Apalagi pemainnya itu, cakep bo! hahaha.....
Kenapa judulnya Bangkok Traffic Love Story? bisa jadi karena dalam cerita ini kedua tokoh utamanya lebih sering ketemu di dalam kereta yang mereka tumpangi ketika pergi atau pulang kerja, dan tokoh utama wanitanya pedekate-in si pria ya di kereta ini...Selain itu kita bisa lihat bagaimana lalu lintas kota Bangkok yang ternyata hampir sama dengan kota Jakarta. Macet! Tapi Bangkok jelas lebih maju karena punya kereta monorail. (Kapan ya di Jakarta bisa seperti itu)

Mei Li ( Sirin Horwang) adalah perempuan berusia 30 tahun yang belum pernah pacaran karena selalu sibuk bersama sahabatnya. Ketika sahabatnya paling dekatnya menikah, Li merasa sedih dan mabuk-mabukkan pada pesta pernikahan sahabatnya. Adegan lucu pertama -----> Li muntah di baju sahabatnya, dan tidur di ranjang pengantin sahabatnya.
Pulang dari hotel masih dalam keadaan sempoyongan, Li mengendarai mobil. Ketika dia hampir kecelakaan, dia Bertemu dengan pria tampan bernama Loong (Theeradeth Wongpuapan) yang bekerja sebagai teknisi kereta monorail. li langsung naksir Loong. Tapi gara-gara ulahnya bikin mobil rusak, sang ayah langsung mencabut ijin membawa mobil ke kantor. Karena suatu kejadian Li dan Loong bertemu lagii tapi Li masih ragu untuk mendekati Loong.
Mereka lalu bertemu lagi di atas kereta ketika Li akan pulang kantor. Akhirnya, Li memutuskan untuk mendekati pria yang dia taksir itu. Tapi karena dia belum punya pengalaman pedekate dengan pria, banyak adegan lucu saat dia berusaha mendekati Loong yang masih terkesan "cool" itu.


mungkin endingnya bisa ditebak ya....tapi jalan ceritanya yang unik dan alur yang dinamis akan membuat penontonnya nggak akan bosan kok. Akting pemainnya juga bagus. Kita akan dibuat tertawa, gemas dan terharu selama 1,5 jam. Ah...what a romantic movie!
nggak heran kalau film ini jadi film terlaris tahun 2009 di Thailand dan memenangkan ajang penghargaan film di sana.
kalau di Indonesia, mungkin film ini bisa dibandingkan dengan fimnya si mbak Dian Sastrowardoyo dan mas Nicholas Saputra, Ada Apa Dengan Cinta (2002). Sama-sama film drama yang bikin geli ketawa dan terharu sekaligus.
Seandainya saja para filmmaker di Indonesia mau bikin lagi film seperti itu. Punya jalan cerita dan karakter tokoh yang kuat, pasti laku deh daripada film-film Indonesia sekarang yang temanya antara horor-gak-jelas atau mau mamerin body pemain wanitanya aja....
Eh, ada juga blog yang nge-review film ini, silahkan disimak juga :
http://layarbesar.wordpress.com/2010/03/30/bangkok-traffic-love-story-2009/
dan
http://bicarafilm.com/baca/2010/04/16/bangkok-traffic-love-story-cerita-klasik-yang-dikemas-menggelitik.html
Selamat menonton yaaaa....\^o^/

Read More ..
Minggu, Maret 07, 2010
pasar..pasar....

Lihat artikel di Kolom Kita punya detik.com yang judulnya ke Pasar Yuk jadi inget kemarin aku juga pasar. hehe...trus apa hubungannya??
Hubungannya adalah.....cuma pengen cerita aja sih, hhihihi....
Yang jelas, waktu baca artikel itu, aku juga merasakan hal yang serupa. Selama ini jarang banget mau ke pasar. Dari jaman masih kecil sampai udah gede seperti sekarang, males aja mau diajak ke pasar. Alasannya cuma satu sih, pasar itu pasti kotor, jorok, bau, dan becek...dulu pernah dipaksa nemenin mama ke pasar. waktu melewati lapak yang isinya ikan, wahh...perut langsung mual-mual deh. habis itu kapok diajak ke pasar. dan akhirnya bikin deal dengan mama. Urusan masak di dapur aku mau banget bantuin tapi urusan beli bahan memasak di pasar, itu urusannya mama atau si bibi yang bantu-bantu di rumah, hihihi....
Waktu kuliah juga jarang banget ke pasar. kalau ke pasar paling cuma beli sayur dan buah. Dulu mikirnya mending beli makanan aja deh daripada masak. Apalagi untuk ukuran di Jogja yang harga makanannya masih murah meriah....( whoaaa...jadi mupeng pengen tinggal di sana lagi...)
Tapi sekarang, living in the mother of city (hihihi...julukan buatan sendiri) jakarta, bikin kantong bolong. makanan lumayan mahal. Lumayan kan bisa berhemat dengan masak sendiri tiap weekend. Apalagi sekarang harus berhemat nih. Gara-gara 2 minggu kemarin udah gila-gilaan belanja alias jadi shopaholic. Minggu ini di rem dulu ah hasrat belanja dan jalan-jalannya. (hayooo..ingat nabung...nabung..)
Jadilah kemarin berbelanja di pasar tradisonal dekat kost. Wah biaya belanja sayur dan ikannya seharga dengan satu porsi makanan kalau beli di luar, hehe...lumayan kan apalagi belanjaannya bisa buat makan 2 hari...hhmmm...
dan..hey, ternyata nggak semua pasar kotor dan bau kok. Walau masih agak berantakan lapak-lapaknya, tapi masih bisa dibilang lumayan lah. dan, kalau di awal-awal ke pasara pasti pusing karena ramai dan penuhnya pasar, sekarang sudah mulai terbiasa lah. dan belajar tawar menawar lah...apalagi kan sebagai seorang gadis (tssaahh...) yang pasti akan berperan sebagai ibu rumah tangga....(duilee...) Jadi harus belajar buat jadi ibu-ibu yang ke pasar, lalu memasak sendiri hihihi...
Dulu, lebih suka belanja di swalayan dan supermarket karena lebih nyaman. Tapi ternyata ada juga pasar tradisonal yang dibuat lebih modern dan nyaman. Mudah-mudahan semua pasar tradisional bisa seperti itu ya....agar para pedagang-pedagang di pasar tradisional nggak lenyap karena serbuan swalayan atau supermarket dengan merk luar negeri. kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa membantu mereka. Makanya ayo kita tetap berbelanja di pasar ya....
Apalagi sekarang lagi pengen menerapkan weekend murah meriah paling nggak 2 kali dalam sebulan. kayak apa sih?
Simpel aja sih, kalau liburan weekeng gini, jangan jalan-jalan atau keluar. cukup di kost aja, masak sendiri terus ngisi waktu dengan baca novel atau nonton dvd. This is it! Liburan murah ala Farah Quinn eh salah, ala wiwi...hahaha....
Okaylah, perut mulai keroncongan. Sekarang mau masak nasi goreng dulu yaaa.....
Nb. gambar diambil dari artikel yg disebut diatas.
Read More ..
Rabu, Maret 03, 2010
perjalanan

hidup itu sebuah pilihan
hidup ibarat sebuah perjalanan
sounds familiar?
yup, kita pasti sering mendengar kata-kata itu, entah di buku, film atau di televisi.
Bosan. mungkin itu yang terlintas.
Tapi pernahkah kita berpikir bahwa, ada di suatu waktu, saat kita merenung lagi (atau melamun :D ), maka kita meresapi kata-kata itu.
Hidup itu pilihan, tentang bagaimana pilihan itu akan menentukan perjalanan hidup kita ke depan. Tujuan perjalanan itu juga suatu pilihan. Kita juga memilih bagaimana cara kita menjalani hidup ini.
Haduh, kacau ya bahasaku?
Hmm....mungkin bisa diibaratkan hidup adalah sebuah mobil, tentu kita punya tujuan waktu naik mobil. Jalan yang kita lalui waktu naik mobil bisa diibaratkan waktu yang berjalan. Sebelum menjalankan mobil, kita butuh oli, bensin, serta mesindan ban mobil yang dalam kondisi baik, agar perjalanan kita lancar sampai tujuan.
Kadang jalan yang kita lalui adalah jalan tol yang mulus, kadang juga jalan berbatu dan penuh kerikil tajam sehingga kita perlu hati-hati berjalan. Ibaratkan itu adalah suatu ujian hidup.
Kita senang saat berkendara di jalan tol yang mulus dan lurus. dan tidak suka ketika berjalan di atas jalan berbatu.
Tapi tahukah kamu bahwa kita tetap harus waspada terhadap jalan yang mulus dan lurus? kita terlena dan tak menyadari bahwa kecepatan kita bertambah, dan kita terkantuk-kantuk saking mulusnya perjalanan kita. Tanpa kita sadari mungkin kita hampir menabrak mobil lain di depan kita.
Bandingkan kalau kita berkendara di jalan yang kasar dan berbatu, kita selalu waspada dan hati-hati. Pelan namun pasti, walau kadang menggerutu dan mengumpat, tapi kita selalu bersabar hingga kita sampai di tujuan dengan perasaan bahagia.
Ibaratnya kita hidup yang mulus dan lurus. bisa jadi itu adalah cobaan yang sedang kita alami. tentang bagaimana kita menghadapi segala rejeki dan kebahagiaan yang berlimpah. Akankah kita menjadi terlena dan lupa?
Kalau kita diuji dengan hidup yang seperti jalan kasar dan berbatu, benarkah itu adalah suatu cobaan? kita diuji untuk terus mengingatNya dan menghadapi segalanya dengan sabar dan tawakal. dan percaya bahwa keajaiban itu akan datang. karena Allah menyayangi kita. Karena Allah takkan memberikan cobaan yang tak bisa dihadapi oleh kita, manusia....
Just be brave....
for life....
Read More ..
Minggu, Februari 07, 2010
Jane dan Novel


Becoming Jane judulnya. Sebuah film klasik yang berlatar belakang Inggris di abad 18an. Kisahnya tentang jane Austen seorang penulis novel terkenal. Tahu Pride and Prejudice? Nah, kalau bilang itu judul film yang dibintangi oleh Keira Knightley, yup bener bgt, tapi nggak 100% benar. Karena filmnya sendiri disadur dari novel dengan judul yang sama. Nah...jane Austen si penulis novel terkenal itu dibuatkan film berdasarkan kisah hidupnya, dan asal muasal ide novel Pride and Prejudice dibuat.
Becoming Jane (2007) dibintangi oleh si manis Anne Hathaway dan John Mcavoy (FYI, suka cowok ini gara2 main di film Penelope,hihihi)
Why this movie stay in my head so badly? Let me tell you...
First thing is...because i love classic movie. Entah kenapa senang aja dengan film yang berlatar belakang abad pertengahan. Kisah percintaannya manis dan dalam (-ups sorry-tanpa bumbu sex yang gamblang) walau kadang cerita-ceritanya selalu berakhir dengan tragis. (hahaha..pasti heran kok sukanya dengan film-film yang sad ending).
Dulu waktu masih belasan tahun alias abegeh (anak baru gedeh) pernah di”cekoki” film Wuthering Height yang ceritanya kelam. But, I love it someway dan (lagi-lagi) diangkat dari sebuah novel. Sejak itu (mungkin) aku jadi menyukai film-film dengan latar klasik dan yang perlu digaris bawahi adalah jalan cerita dan karakter tokoh yang kuat (cateeett..hehe) Setelah itu beberapa judul film klasik mulai menambah koleksi film “have been watched” punyaku. Dan Pride and Prejudice yang punya kisah happy ending itu jadi salah satu favorit beberapa tahun lalu.
Wah, tadi mau cerita film Jane Austen malahan jadi melebar. Okey, back to the topic....
Jane Austen dilahirkan pada 16 December 1775 (Gilee, bayangin aja waktu itu msh jaman Revolusi Prancis dan Amerika Serikat baru terbentuk) Selama hidupnya dia menulis enam buah novel, yang pertama Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Mansfield Park, Emma, Northanger Abbey, dan Persuasion. Waktu tadi Googling si Jane ini, ternyata semua novelnya sudah diangkat ke layar lebar. Tapi yang paling terkenal dan filmnya laris ya Pride and Prejudice tadi.
Si Mr.Darcy yang tampan sinis dan cuek di Pride and Prejudice merupakan tokoh yang diadaptasi dari tokoh nyata seorang pria yang bernama Tom Lefroy yang dekat dengan Jane Austen semasa muda. Nah, kisah mereka inilah yang diangkat dalam film Becoming jane. Kalau sudah nonton Pride and Prejudice, lalu nonton film ini pasti jadi paham kalau kisahnya lah yang dijadikan inspirasi dalam novel itu. Seperti kalimat terakhir dalam film Becoming jane, Inspirasi datang dari pengalaman hidup (kurang lebihnya begitu, hehe)
Yang "agak" mengusik pikiran setelah nonton film ini adalah, apakah kisah itu benar-benar nyata tanpa tambahan bumbu cerita? Well, sayang sekali endingnya tidak happy...(walau gak bisa dibilang sad ending juga). Yang jelas, aku jadi berpikir saat si Jane memutuskan nggak jadi kawin lari dengan Tom Lefroy (karena keluarga tidak merestui) dengan alasan nggak mau jadi beban bagi Tom yang waktu itu baru lulus sekolah dan dihidupi dari hutang kepada pamannya yang kaya. Apalagi Tom ternyata harus menghidupi adik-adiknya. Nah, kalau disini ternyata cinta bisa berbenturan dengan logika, biasanya si tokoh pria yang lebih logic daripada wanita. tapi Jane dengan berat hati memilih untuk meninggalkan Tom. Padahal akhirnya, beberapa tahun kemudian Tom telah menjadi Pengacara sukses dan kaya dan memiliki anak, sedangkan Jane juga sukses dengan novel-novelnya walaupun tidak pernah menikah seumur hidupnya (mungkinkah dia masih mencintai Tom?).
Ironinya adalah, apakah seandainya saat itu Jane memutuskan tetap kawin lari dengan Tom, apakah mereka tetap akan menjadi seperti saat mereka tidak bersama? atau simpelnya, bisa tetap sukses kalau mereka memutuskan tetap bersama???
Ah, bisa jadi Jane Austen tidak akan dikenang sepanjang masa berkat novel-novelnya yang terkenal itu. Tapi Cinta jadi korbannya? atau jadi sumber inspirasinya?
Read More ..
Minggu, Januari 17, 2010
seandainya.......

seandainya...
kau bisa kugapai...
kuraih...
kumiliki...
seutuhnya...
Ku tahu aku memiliki hatimu
tapi tidak dengan ragamu
Walau raga kita jauh
Namun hati kita berdekatan
Tapi tetap saja tak bisa untuk ku meraih asa
tentang kita
Tiap waktu kubertahan
dengan perasaan yang terus tumbuh
Entah sampai kapan aku bisa bertahan
Hanya kamu yang bisa mengerti
Memahami aku
Mengingatkanku di kala aku lupa
Menasehatiku di kala aku salah
menertawai segala kecerobohanku
Menyemangati saat aku mulai terpuruk
Mengagumi kelebihan sekaligus kekuranganku
Teman canda dan tawa di sela waktu yang terasa membunuhku
Aku tahu kamu menyayangiku apa adanya...
Dan entah kenapa kita selalu terhubung
seolah-olah ada telepati di antara kita
Kalau begitu, sanggupkah aku pergi merelakanmu
Mengorbankan perasaan yang mengakar ini?
Jika kumemilikimu
Batin ini selalu berteriak, ini salah
Tapi bisakah aku menolak apa yang kamu tawarkan?
Jakarta, 17 Jan 2010
Gambar diambil dari sini Read More ..
Langganan:
Postingan (Atom)
Labels
- Buku-Novel (3)
- Curhat-Gak-Penting (15)
- Film (11)
- Fun (8)
- Lagu (4)
- Live or Life (11)
- Loving (5)
- Mellow-Mellow (5)
Mampir ke Sini Yaaa...
About Me
- wiwi
- sensitif/peka, intuitif, pemimpi, independent...sedikit pendiam tapi kalau sudah kenal jadi cerewet, moody.
Blogroll
My Favourite Movie!!
Copyright © WiwiStory. All rights reserved.
Blogger templates created by Templates Block
Wordpress theme by Turtle Host