RSS Feed

  • Twitter
  • Digg
  • Stumble
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, Agustus 29, 2010

Harry Potter: dari jaman abegeh hingga kantoran


Saya suka sekali dengan Novel Harry Potter. Bahkan kedudukannya dalam novel favorit saya tetaplah yang nomor satu. :D Tidak tergeserkan oleh apapun, bahkan ketika saya suka baca Twilight, tetap saja rasanya lebih suka Harry Potter.

Mungkin alasannya, walaupun ini novel murni hanya fantasi, tetapi kalau diperhatikan, si JK Rowling itu selalu memasukkan unsur-unsur sejarah dan dongeng yang telah ada dalam novelnya. Tahu jubah ajaib yang busa bikin si Harry menghilang? Konon ilmuwan saat ini sedang berusaha menciptakan jubah gaib tersebut. Wah, ternyata nggak cuma sekedar khayalan ya...

Yang jelas, baca seri novel ini bisa bikin ketawa sampai menangis (tolong ya, saya tidak lebay kok ;D ). Ketika saya baca kisah terakhirnya, The Deathly Hallows, wah....rasanya sedih nggak bisa mengikuti kisahnya yang selalu dinanti-nanti selama beberapa tahun ini.

Bayangkan saja, saya kenal Harry Potter dari teman yang saya pinjam novelnya ketika masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Lalu kisahnya berakhir ketika saya sudah selesai kuliah. Hemm...kalau dihitung-hitung hampir tujuh tahun mengikuti kisahnya yang penuh ketegangan dan konflik ini.

Dulu pas jaman abegeh, bahkan sampai hobi bikin kliping soal novel, film dan pemeran film Harry Potter. (tapi gak tahu nasib kliping itu sekarang di mana)

Anyway...sebentar lagi filmnya yang terakhir bakal diputer di bioskop (Yippiiii...), dan sayangnya akan diputar dalam 2 bagian. Bagian pertama pada bulan november 2010 dan bagian kedua di Juli 2011. Lama amat ya jedanya...

Yang jelas, setelah kesedihan berpisah dengan novelnya, siap-siap juga buat sedih untuk berpisah dengan film terakhirnya tahun depan.

Nggak cuma saya atau penggemarnya yang lain yang (mungkin) tumbuh dewasa dengan menikmati novel dan film-filmnya. Tapi coba lihat tokoh-tokoh di film Harry Potter. Kita bisa lihat dari jaman mereka masih culun-culun hingga tumbuh besar jadi ganteng dan cantik (juga terkenal pastinya)


Read More ..

Kamis, Juli 01, 2010

Sesuatu yang berbeda dari Eclipse


Kemarin tepatnya tanggal 30 Juni, para penggemar novel ataupun film Twilight Saga pasti udah nggak sabar untuk nonton premier Eclipse. sayapun demikian. Walaupun, sejujurnya sih, udah nggak se-excited dulu ketika pertama kalinya Twilight divisualisasikan dalam film.

Entah karena faktor usia yang sekarang udah nggak abegeh (anak baruh gedeh :p...) lagi, atau karena dulu emang penasaran dengan tokoh-tokoh khayalan dalam Twilight yang akhirnya divisualkan dalam bentuk film.

Hitung-hitung refreshing setelah pulang kerja, hari Rabu 30 Juni itu, akhirnya kami (saya dan teman-teman) dapat tiket nonton premiere Eclipse di Plaza Senayan...Ihiiiiy..^.^


bayangkan aja, film pertamanya saya tonton sampai dua kali saking senangnya dengan si Edward alias Robert Pattinson yang ganteng itu :D
Lalu film keduanya New Moon, yang menurut saya biasa saja kecuali adegan si Jacob telanjang dada untuk pertama kalinya seliweran di layar bioskop, hehehee....

lalu yang ketiga, yang sekarang tayang di Bioskop yaitu Eclipse?

Sesuatu yang berbeda di Eclipse. Ada pesan-pesan yang bermakna di film ini. Kalau ngomongin kisah percintaan antara manusia, vampir dan manusia serigala sudah jelas lah...apalagi kalau pernah baca novelnya. Memang bukan kisah permusuhan vampir dan manusia serigala dengan bumbu percintaan.

Justru cinta yang jadi topik utama dengan bumbu dan latar kisah tentang perbedaan. Bukan sekedar perbedaan RAS tapi malah antara manusia dengan vampir.

Waktu baca review Eclipse di detik.com, si penulis pas sekali mereview film ini. Bukan dari segi bagaimana ceritanya, akting tokohnya atau penyutradaraannya. Tapi pada apa pesan yang ada dalam film ini. I agree 100% :)

Kata si Jessica dalam pidato kelulusannya: ini bukan saatnya memilih tapi saatnya melakukan kesalahn.

Mungkin sekilas, pasti konotasinya negatif ya? mungkin maksudnya adalah di usia saat mereka (para remaja) perlu untuk mencari jati diri, tentu tak selalu langsung benar. Kadang ada saatnya langkah yang dipilih itu salah, tapi kita belajar dari kesalahan itu, maka apapun nanti hasilnya. Itulah kita. Kalau kata Bella pada Edward. Pilihannya untuk menjadi vampir bukan sekedar demi Edward. Tapi itu adalah pilihan untuk dirinya sendiri.

Bisa jadi, ada pesan yang terselip di antara dialog para tokohnya. Seakan menyentil kehidupan remaja masa sekarang.

Apakah saya tersentil juga? wah, karena bukan remaja lagi tapi tetap ada lah sesuatu yang bisa didapat dari film Eclipse ini. Perut six pack Jacob atau senyum menawan misteriusnya Edward mungkin.....:D Just 4 Kidding




Read More ..

Senin, Mei 24, 2010

Film-film minggu ini

Wah...minggu ini banyak film-film blockbuster yang tayang di bioskop...
hhmmm, kebetulan minggu ini ada weekend panjang, jadi bisa dimanfaatkan untuk nonton di bioskop kan...so please enjoy it...

Mau nonton yang mana nih......

1. Robin Hood



Film ini dibintangi oleh Russel Crowe dan Cate Blanchett. Sudah tayang di bioskop.

2. Shrek Forever After



This is one of my favourite cartoon movies...:)

3. Prince of Persia: The Sands of Time



Dibintangi olehh Jake Gyllenhaal, diangkat dari video game terkenal dengan judul yang sama. Baru tayang tanggal 27 Mei nanti...pas momennya dengan libur panjang akhir pekan ini kan? :D

4. Daybreakers



5. Kites



Film ini dibintangi Hrithik Roshan (one of handsome man in Bollywood)

Nggak ada salahnya nonton film di luar genre Hollywood...:p

Read More ..

Minggu, April 18, 2010

Bangkok Traffic Love Story : Romantic Comedy Movie!



Bangkok Traffic Love story (2009) adalah film drama asal Thailand. Dibumbui dengan komedi yang nggak terkesan asal "taruh" alias natural di filmnya. Asli, nonton film ini bikin aku ketawa atau cengar-cengir. Dan ceritanya itu, punya alur yang bagus sehingga yang menonton nggak akan lihat jalan cerita yang monoton atau membosankan. Apalagi pemainnya itu, cakep bo! hahaha.....

Kenapa judulnya Bangkok Traffic Love Story? bisa jadi karena dalam cerita ini kedua tokoh utamanya lebih sering ketemu di dalam kereta yang mereka tumpangi ketika pergi atau pulang kerja, dan tokoh utama wanitanya pedekate-in si pria ya di kereta ini...Selain itu kita bisa lihat bagaimana lalu lintas kota Bangkok yang ternyata hampir sama dengan kota Jakarta. Macet! Tapi Bangkok jelas lebih maju karena punya kereta monorail. (Kapan ya di Jakarta bisa seperti itu)




Mei Li ( Sirin Horwang) adalah perempuan berusia 30 tahun yang belum pernah pacaran karena selalu sibuk bersama sahabatnya. Ketika sahabatnya paling dekatnya menikah, Li merasa sedih dan mabuk-mabukkan pada pesta pernikahan sahabatnya. Adegan lucu pertama -----> Li muntah di baju sahabatnya, dan tidur di ranjang pengantin sahabatnya.

Pulang dari hotel masih dalam keadaan sempoyongan, Li mengendarai mobil. Ketika dia hampir kecelakaan, dia Bertemu dengan pria tampan bernama Loong (Theeradeth Wongpuapan) yang bekerja sebagai teknisi kereta monorail. li langsung naksir Loong. Tapi gara-gara ulahnya bikin mobil rusak, sang ayah langsung mencabut ijin membawa mobil ke kantor. Karena suatu kejadian Li dan Loong bertemu lagii tapi Li masih ragu untuk mendekati Loong.

Mereka lalu bertemu lagi di atas kereta ketika Li akan pulang kantor. Akhirnya, Li memutuskan untuk mendekati pria yang dia taksir itu. Tapi karena dia belum punya pengalaman pedekate dengan pria, banyak adegan lucu saat dia berusaha mendekati Loong yang masih terkesan "cool" itu.





mungkin endingnya bisa ditebak ya....tapi jalan ceritanya yang unik dan alur yang dinamis akan membuat penontonnya nggak akan bosan kok. Akting pemainnya juga bagus. Kita akan dibuat tertawa, gemas dan terharu selama 1,5 jam. Ah...what a romantic movie!

nggak heran kalau film ini jadi film terlaris tahun 2009 di Thailand dan memenangkan ajang penghargaan film di sana.

kalau di Indonesia, mungkin film ini bisa dibandingkan dengan fimnya si mbak Dian Sastrowardoyo dan mas Nicholas Saputra, Ada Apa Dengan Cinta (2002). Sama-sama film drama yang bikin geli ketawa dan terharu sekaligus.

Seandainya saja para filmmaker di Indonesia mau bikin lagi film seperti itu. Punya jalan cerita dan karakter tokoh yang kuat, pasti laku deh daripada film-film Indonesia sekarang yang temanya antara horor-gak-jelas atau mau mamerin body pemain wanitanya aja....

Eh, ada juga blog yang nge-review film ini, silahkan disimak juga :
http://layarbesar.wordpress.com/2010/03/30/bangkok-traffic-love-story-2009/
dan
http://bicarafilm.com/baca/2010/04/16/bangkok-traffic-love-story-cerita-klasik-yang-dikemas-menggelitik.html

Selamat menonton yaaaa....\^o^/




Read More ..

Minggu, Februari 07, 2010

Jane dan Novel



Becoming Jane judulnya. Sebuah film klasik yang berlatar belakang Inggris di abad 18an. Kisahnya tentang jane Austen seorang penulis novel terkenal. Tahu Pride and Prejudice? Nah, kalau bilang itu judul film yang dibintangi oleh Keira Knightley, yup bener bgt, tapi nggak 100% benar. Karena filmnya sendiri disadur dari novel dengan judul yang sama. Nah...jane Austen si penulis novel terkenal itu dibuatkan film berdasarkan kisah hidupnya, dan asal muasal ide novel Pride and Prejudice dibuat.

Becoming Jane (2007) dibintangi oleh si manis Anne Hathaway dan John Mcavoy (FYI, suka cowok ini gara2 main di film Penelope,hihihi)
Why this movie stay in my head so badly? Let me tell you...


First thing is...because i love classic movie. Entah kenapa senang aja dengan film yang berlatar belakang abad pertengahan. Kisah percintaannya manis dan dalam (-ups sorry-tanpa bumbu sex yang gamblang) walau kadang cerita-ceritanya selalu berakhir dengan tragis. (hahaha..pasti heran kok sukanya dengan film-film yang sad ending).
Dulu waktu masih belasan tahun alias abegeh (anak baru gedeh) pernah di”cekoki” film Wuthering Height yang ceritanya kelam. But, I love it someway dan (lagi-lagi) diangkat dari sebuah novel. Sejak itu (mungkin) aku jadi menyukai film-film dengan latar klasik dan yang perlu digaris bawahi adalah jalan cerita dan karakter tokoh yang kuat (cateeett..hehe) Setelah itu beberapa judul film klasik mulai menambah koleksi film “have been watched” punyaku. Dan Pride and Prejudice yang punya kisah happy ending itu jadi salah satu favorit beberapa tahun lalu.

Wah, tadi mau cerita film Jane Austen malahan jadi melebar. Okey, back to the topic....

Jane Austen dilahirkan pada 16 December 1775 (Gilee, bayangin aja waktu itu msh jaman Revolusi Prancis dan Amerika Serikat baru terbentuk) Selama hidupnya dia menulis enam buah novel, yang pertama Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Mansfield Park, Emma, Northanger Abbey, dan Persuasion. Waktu tadi Googling si Jane ini, ternyata semua novelnya sudah diangkat ke layar lebar. Tapi yang paling terkenal dan filmnya laris ya Pride and Prejudice tadi.

Si Mr.Darcy yang tampan sinis dan cuek di Pride and Prejudice merupakan tokoh yang diadaptasi dari tokoh nyata seorang pria yang bernama Tom Lefroy yang dekat dengan Jane Austen semasa muda. Nah, kisah mereka inilah yang diangkat dalam film Becoming jane. Kalau sudah nonton Pride and Prejudice, lalu nonton film ini pasti jadi paham kalau kisahnya lah yang dijadikan inspirasi dalam novel itu. Seperti kalimat terakhir dalam film Becoming jane, Inspirasi datang dari pengalaman hidup (kurang lebihnya begitu, hehe)

Yang "agak" mengusik pikiran setelah nonton film ini adalah, apakah kisah itu benar-benar nyata tanpa tambahan bumbu cerita? Well, sayang sekali endingnya tidak happy...(walau gak bisa dibilang sad ending juga). Yang jelas, aku jadi berpikir saat si Jane memutuskan nggak jadi kawin lari dengan Tom Lefroy (karena keluarga tidak merestui) dengan alasan nggak mau jadi beban bagi Tom yang waktu itu baru lulus sekolah dan dihidupi dari hutang kepada pamannya yang kaya. Apalagi Tom ternyata harus menghidupi adik-adiknya. Nah, kalau disini ternyata cinta bisa berbenturan dengan logika, biasanya si tokoh pria yang lebih logic daripada wanita. tapi Jane dengan berat hati memilih untuk meninggalkan Tom. Padahal akhirnya, beberapa tahun kemudian Tom telah menjadi Pengacara sukses dan kaya dan memiliki anak, sedangkan Jane juga sukses dengan novel-novelnya walaupun tidak pernah menikah seumur hidupnya (mungkinkah dia masih mencintai Tom?).

Ironinya adalah, apakah seandainya saat itu Jane memutuskan tetap kawin lari dengan Tom, apakah mereka tetap akan menjadi seperti saat mereka tidak bersama? atau simpelnya, bisa tetap sukses kalau mereka memutuskan tetap bersama???
Ah, bisa jadi Jane Austen tidak akan dikenang sepanjang masa berkat novel-novelnya yang terkenal itu. Tapi Cinta jadi korbannya? atau jadi sumber inspirasinya?
Read More ..

Minggu, Januari 03, 2010

Film Penelope


Hobi nonton film memang mengasyikkan. Baik itu di bioskop atau di rumah pake dvd player. Malah aku sengaja beli harddisk eksternal buat menyimpan copy-an film-film yang aku suka biar bisa ditonton lagi sewaktu-waktu, hehee...

Nggak ada kategori kriteria tertentu soal film favoritku. Cuma satu kriteria untuk film favoritku. Yaitu, selalu terbayang di pikiranku walaupun sudah selesai nonton. Beda dengan film yang menurutku biasa-biasa saja, pasti setelah nonton, film itu nggak berbekas sama sekali di pikiranku. Nah, kalau setelah nonton suatu film terus terngiang-ngiang entah adegan atau jalan ceritanya, pasti itu adalah film yang bagus menurutku. Intinya, film itu bikin aku terkesan.

Kadang film yang awalnya aku under estimate justru adalah film yang malah jadi aku favoritkan. Dulu ada August Rush yang jalan ceritanya keren banget menurutku. Nah, sekarang ada film Penelope yang dibintangi oleh Christina Ricci (Casper) dan Reese Whiterspoon (Legally Blonde). Ceritanya sebenarnya nggak jauh-jauh dari cerita dongeng tentang seorang anak yang sejak lahir kena kutukan dari nenek sihir. Si anak perempuan sejak lahir memiliki hidung berbentuk babi.

ceritanya sih udah di jaman modern. Tapi cara pengemasan jalan ceritanya bikin film ini jadi terasa unik dan nggak dipaksakan. Soal pesan moral pun, nggak kelihatan klise seperti cerita dongeng lainnya yaitu kebaikan mengalahkan kejahatan. Kutukan bisa dipatahkan bukan karena ciuman pertama dari pangeran atau ketika ada seorang pria yang jatuh cinta kemudian menikahinya. (pasti kedengaran familiar kan?) Tapi berasal dari diri sendiri.

Well, lucu sih, apalagi mamanya terlalu overprotected dan berusaha menjodohkan si anak dengan pria sehingga bisa mematahkan kutukan tersebut. Di sini ada pemeran cowoknya dong, kan nggak seru kalau nggak ada, hehee...si cakep James Mcavoy (Wanted). Film ini di produseri oleh Reese Whiterspoon loh...

Kalau mau lihat referensi cerita dan video trailer-nya disini : http://www.21cineplex.com/penelope,movie,2177.htm Read More ..

Minggu, April 05, 2009

Are you Shopaholic?



Kemarin tanggal 4 April masih belum punya rencana hari ini Minggu tanggal 5 April mau ngapain. Tiba-tiba semalam saat aku asyik browsing, hape-ku berbunyi, ada pesan masuk. Dari temanku yang pernah bareng kuliah profesi. Isinya " Wik,bsk ada acara ngga? Nonton yuk.." Aku menjawab, " Mau nonton apa? di 21 atau di XXI?". Temanku balas lagi, "di XXI,kan kita belum pernah nonton di sana. Ada film confessions of shopaholic. Katanya bagus..". Aku langsung bilang OK.


Hari ini akhirnya temanku itu jemput aku dan kami langsung menuju XXI di Jalan Solo. Tadinya sempat takut akan penuh tempatnya. Ternyata sampai di sana Bioskop belum buka, akhirnya kami masuk dan menunggu sampai antrian di buka jam 11.30. Kami berencana nonton Confessions yang jam 12.30. Sambil nunggu teater dibuka kami cuma duduk sambil ngobrol ringan.


Akhirnya, jam 12.30 tepat kami masuk bioskop. Setelah masuk, ternyata yang nonton sedikit, hanya beberapa baris yang terisi. Film pun dimulai.


Hmmm....ternyata filmnya bagus. Ceritanya tentang seorang wanita bernama Rebecca Bloomwood, bekerja sebagai jurnalis yang doyan banget belanja alias shopaholic. Setiap lewat toko, dia pasti nggak kuat untuk nggak belanja pakai kartu kredit. Akhirnya utang kartu kreditnya menumpuk sementara dia baru di-PHK di tempat kerja. Secara nggak sengaja dia diterima di majalah Keuangan. Padahal impiannya ingin jadi jurnalis majalah Fashion yang satu perusahaan dengan majalah keuangan tersebut. Nggak seru kalo nggak ada tokoh prianya ;) Dia jatuh cinta dengan editor majalah tempat dia kerja. Lucunya, dia mengupas topik soal keuangan sementara dia selalu berbohong soal masalah utangnya. Sampai harus dipaksa ikut konseling untuk menghilangkan kebiasaan belanjanya. Belum lagi ada petugas dari perusahaan kartu kredit yang mengejar-ngejar dia untuk bayar utang yang diakuinya sebagai mantan pacar yang psycho supaya orang sekantor nggak curiga. Lucu...very fun, menggelitik karena seakan menyindir secara halus kebiasaan belanja kaum wanita. Mungkin ada yang merasa, it is like me ;) Alurnya maju, ringan, tapi ada suatu pesan yang bisa didapat dari nonton film ini. Jangan gila belanja.


Untuk melepas kepenatan dari rutinitas selama hari kerja seminggu ini, film ini bikin otak bisa sedikit rileks sebelum hari senin "bertempur" lagi.


Setelah nonton, temanku ngajak ke Monic, suatu butik di daerah dekat UGM. Lucu, setelah nonton itu kami malah ke butik lihat-lihat baju. Temanku malah beli baju di sana. Aku bercanda ke dia, "Habis nonton Confessions of Shopaholic, malah belanja nih.." temanku cuma tertawa aja dengar candaanku.

Read More ..

Rabu, Desember 17, 2008

DEMAM TWILIGHT


Kadang-kadang aku geli sendiri...
membayangkan aku masih kayak ABG belasan tahun...maksudnya?

Well, seumuran aku ini (yang udah ada titel di belakang nama,hehe..) masii..h aja nge-fans dengan sesuatu sampai segitu hebohnya...
kalo dulu nge fans gila sama harry potter sekarang nge-fans bgt sama Twilight. Gara-gara novelnya bagus (so romantic...) bikin aku nge bayangin sosok si vampir cakep di novel itu.

Lebih gila lagi waktu tahu bakal dibikin filmnya. And yang jadi pemerannya adalah si Cakep Robert Pattinson (yang jadi Cedric Diggory di film Harry Potter Goblet of Fire). Aku sampai kesemsem pengen nonton. Untungnya di 21 Jogja udah diputar duluan...

Sempat penasaran, gara2 temen yang bilang filmnya bagus. dan lebih sebel lagi harus menunda nonton gara2 harus pulang ke rumah (di luar jawa) ngurusin surat2 administrasi CPNS.

But, balik ke jogja lagi deh...
sempat dapet sial di pagi hari (ban motor bocor, ugh..), akhirnya bisa nonton juga...

Keren
itu kata yang bisa nge gambarin. Filmnya lumayan bagus, tapi yang bikin bagus adalah si pemeran prianya dunk..haha..
Temenku aja sampai "silau" ngelihatnya (lebai bgt nih)..haha...
Well, ternyata aku atau temen2 ku yang udah "kepala dua" lebih sdkt ini masih aja saingan sama ABG belasan tahun...heboh demam twilight dan si Robert Pattinson sampai cari2 di google segala haha...(mulai nyari wallpaper,profil sampai soundtrack filmnya)

FYI, soundtracknya keren2 lho, apalagi linkin park, paramore, dan collective soul. Si Robert juga numpang nyanyi 1 lagu,ternyata gak cuma cakep tapi suaranya lumayan bagus juga,haha...

Ah...Gak apa2 lah..demam twilight ini, mungkin aku atau temanku emang masih punya jiwa ABG yang nggak bisa hilang, (itung2 supaya tetep awet muda selalu,haha..) walaupun kadang saingan sama adikku yang masih SMA. Kadang di protes juga sih ma keluarga, masak udah gede gini masih kayak ABG... Read More ..

Kamis, Oktober 23, 2008

Film “August Rush”

Kadang-kadang kita suka men-“judge” suatu film bagus atau nggak dari trailer film atau para pemainnya aja tanpa melihat dulu keseluruhan film.
Hal ini terjadi waktu aku lihat trailer film August Rush. Sempat lihat trailernya setahun yang lalu dari berita di TV tapi nggak ada ketertarikannya. Setelah dapat resensi dari suatu majalah yang bilang film ini bagus, tambahan pula adikku udah nonton dan dia bilang bagus akhirnya aku menyewa filmnya.

Whoaaa…ternyata bagus banget! Alur ceritanya mengalir begitu aja, walaupun ada flashback di setting waktu tapi nggak bikin aku bingung waktu menonton. Bikin penasaran sampai aku nggak mau berhenti sampai filmnya habis. Ditonton sampai berkali-kali aku nggak bosen (berlebihan nggak?). Apalagi musc scoring dan lagu-lagu yang jadi latar adegan-adegan di film ini bagus. (jadi penasaran ada nggak album soundtrack-nya)

Ada beberapa hal yang memang nggak masuk akal kalau beneran terjadi di kehidupan nyata. Tapi secara keseluruhan film ini bikin aku tersentuh tanpa harus mengeluarkan airmata. Bagaimana perjuangan si Evan alias August Rush (Freddie Highmore), 10 tahun, yang percaya kalau orangtuanya masih hidup dan berusaha mencarinya sehingga dia melarikan diri dari panti asuhan tempat dia dibesarkannya. Bakatnya yang besar di seni musik, sifatnya yang suka menyendiri, bikin dia dibilang aneh oleh teman-teman di panti.

Kisah petualangannya dimulai ketika dia lari dari panti asuhan Walden County. Dari perjalanannya, dia menemukan bakatnya yang luar biasa di bidang musik. Belajar gitar otodidak dengan gitar seorang pria jalanan bernama Wizard (Robin Williams), yang memegang kendali terhadap anak jalanan yang dipaksa jadi pengamen di New York. Evan lalu diberi nama August Rush oleh Wizard dan dijadikan pengamen jalanan.

Nggak selesai disitu, ketika sarang Wizard digerebek polisi, Evan kabur dan bersembunyi di Gereja. Seorang anak kecil penyanyi gereja yang tinggal disitu melihat bakat Evan setelah dia memainkan piano dan membuat partitur musik tanpa belajar. Pendeta di gereja itu lalu memasukkannya ke sekolah music Juilliard.
Siapa sangka dia lalu diberi kesempatan bikin konser karena prestasinya yang luar biasa. Sementara itu, sang ibu, Lyla (Keri Russel) baru tahu anaknya masih hidup dari ayahnya, yang berbohong mengatakan anaknya mati padahal membuang Evan ke panti asuhan karena ayah Lyla tidak ingin karier musiknya sebagai Cellist terhambat. Selama 10 tahun pula ia tak bisa bertemu Louis (Jonathan Rhys Meyers) seorang anak band, yang tidak tahu kalau Lyla melahirkan anak mereka.

Seru banget menonton kisah tiga orang yang saling terpaut lewat musik ini. Mereka terus saling mencari satu sama lain dan percaya musik akan mempertemukan mereka. Disatu sisi Evan mencari orangtuanya, di sisi lain Lyla mencari anaknya, sedangkan Louis yang mencari kekasihnya (Lyla) yang sudah 10 tahun nggak ketemu.

Music is all around us. All you have to do is listen…adalah kalimat terakhir Evan di ending film.
Yang bisa dipetik : Musik ternyata mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari dan kalau kita punya rasa percaya dan optimis, nggak peduli kata orang, kita tetap memegang teguh keyakinan itu dan berusaha, maka apa yang kita inginkan pasti akan terwujud.

Two thumbs up deh! (jempol kaki juga dipakai, hehe…)

Pemain : Keri Russel, Freddie Highmore, Jonathan Rhys Meyers, Robin Williams Read More ..

Senin, Oktober 20, 2008

Pelajaran dari film serial “Sex and the City”


Kalau baca judul diatas, jangan langsung nebak kalau ini adalah pelajaran tentang sesuatu hal yang tertulis secara gamblang diatas (hehe..). Tapi tentang pelajaran cinta yang bisa dipetik dari film itu. Tentang kehidupan tokoh Carrie Dkk
Aku dapat artikelnya dari sebuah majalah edisi bulan juli lalu. Ketika kemarin buka-buka majalah itu lagi, aku langsung ingat artikel yang menurutku itu bagus dan bisa disharing buat orang lain.(kutipan dari artikel sudah diubah sedikit)

And here they are…:
Lesson # 1 Jadilah Lajang Bahagia
Kita nggak perlu berkecil hati masih menjadi lajang sementara sahabat-sahabat yang lain sudah punya pacar. Belajarlah dari tokoh Carrie yang tetap bahagia dan menghargai dirinya sendiri. Ketika kita begitu mencintai diri sendiri, kita jadi tambah menarik dan seksi.

Lesson #2 Jangan berubah Demi Pria
Tokoh carrie pernah menjalin hubungan dengan seorang desainer furniture, Aidan. Dia merasa harus berubah demi Aidan dan menuruti semua keinginannya. Dia ingin menjadi perempuan seperti yang Aidan inginkan. Namun usahanya justru membuat dirinya tidak nyaman. Carrie merasa tersiksa. Pada akhirnya dia sadar bahwa Aidan bukanlah pria yang tepat untuknya.
Moral story-nya adalah jangan pernah berubah hanya untuk pria karena itu tidak akan berhasil. Jika dia memang orangnya, dia pasti akan mencintai diri kita apa adanya dan anda tidak perlu capek-capek berubah hanya untuk menyenangkan dirinya.
(Note dari aku : Boleh saja kita berubah tapi untuk sesuatu hal yang menuju kebaikan kita. Tapi kalau berubah menjadi seseorang yang bukan diri kita sendiri lebih baik jangan :) )

Lesson #3 Berani Jatuh Cinta
Bagi sebagian perempuan yang pernah terluka, jatuh cinta adalah hal yang menakutkan. Takut disakiti dan terluka menjadi alas an untuk menghindari jatuh cinta. Film ini mengajarkan bahwa tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Jatuh cinta kemudian patah hati adalah sesuatu yang lumrah terjadi.
Kita tidak akan pernah tahu rasanya jatuh cinta kalau kita tidak pernah merasakan sakitnya patah hati. Kalau kita sedang sakit karena patah hati, segera bangkit dan temukan cinta lagi untuk menyembuhkannya. Itulah yang Carrie lakukan. Karena menurutnya, menemukan seseorang yang kita cintai rasanya sangat luar biasa.
(Note dari aku : Pelajaran inilah yang paling aku suka. Kata-katanya begitu mengena banget! Ada unsur pengalaman pribadi juga sih… :p )

Lesson #4 Biarkan Dia yang Mengejar
Dalam kehidupan nyata, laki-laki memang perlu diberi kesempatan untuk mengejar kita dan dibuat penasaran. Jangan membuat hidupnya terlalu mudah untuk memgejar. Semakin kita terlihat cuek, dia akan semakin semangat mengejar kita. Pada akhirnya dia akan mengorbankan apapun agar bisa bersama.
Lesson #5 Jangan Pernah Abaikan Sinyal.
Sahabat Carrie, Charlotte sangat percaya bahwa mimpinya menjadi kenyataan ketika seorang pria tampan, kaya dan lajang menyelamatkannya dari kecelakaan. Charlotte yakin dialah takdirnya. Padahal sinyal-sinyal bahwa hubungannya tidak akan berhasil sudah terlihat, misalnya dia mempunyai calon mertua yang selalu ikut campur. Tapi dia tidak memperdulikannya. Ketika akhirnya mereka bercerai, Charlotte baru menyadari bahwa sinyal-sinyal itu ternyata benar.
Jadi jangan pernah abaikan sinyal yang memberi peringatan bahwa hubungan tidak akan berhasil di masa depan. Contoh kecil, jika calon mertua terlalu ikut campur dan kita tidak suka, atau kita mencium ketidakjujuran pasangan, sebaiknya pikir-pikir lagi. Pasalnya, masalah itu bakal menjadi duri dalam daging yang akan menjadi batu sandungan dalam kehidupan perkawinan kita kelak.

Lesson #6 Jangan pernah Tinggalkan sahabat
Sahabat terbaik perempuan ya perempuan. Kita boleh saja mempunyai kekasih namun jangan pernah meninggalkan sahabat. Tekadang mereka memang hanya menjadi pendengar yang baik, namun seringkali mereka adalah pendukung setia. Saat kita dikecewakan kekasih, kita akan mencari sahabat.

( bener bgt tuh...)
Read More ..

Senin, Juli 28, 2008

Kungfu Panda

Siapa bilang tidak ada aktifitas dan santai-santai di kost rasanya enak. Kalau itu jadi suatu rutinitas akhirnya bikin bosan juga. Buat refreshing, aku dan temanku jalan-jalan naik bus trans Jogja menuju suatu Mall. Naik bus trans saja sudah jadi pengalaman tersendiri. Bayangkan saja kalau ke Mall Cuma butuh 10-15 menit dari kost kalau naik kendaraan pribadi, pakai bus Trans butuh waktu 1 jam! (harus muter-muter, pindah bus 2 kali sesuai rute) Thank God, aku masih punya stok kesabaran.

Sampai Mall, muter-muter sebentar dan mampir ke Bioskop 21 lihat jadwal film yang sedang diputar. Studio 1 ada Batman, studio 2 ada Kungfu Panda…Huaa…mataku langsung tertuju ke poster film Kungfu Panda. Ternyata temanku juga penasaran sama film itu. Akhirnya, kita antri beli tiketnya. Dan ternyata hampir 70% penontonnya anak-anak. Temanku sampai bilang " Ini film buat anak-anak ya, kayaknya kita jadi anak kecil lagi nih" Aku Cuma menjawab "Ini kan film segala umur bu…" Tapi sempat geli sendiri juga karena "saingan" sama anak-anak.

Filmnya lucu banget, ada aja tingkah si Panda yang bikin ketawa sewaktu dia berusaha jadi pendekar naga sejati. Ada pesan moral juga diselipkan (tapi anak-anak ngerti nggak ya?). Yang lucu juga, baru kali ini sewaktu nonton di bioskop, nggak Cuma harus mendengar celoteh suara ribut anak-anak saat menonton tapi juga sampai membaui aroma balsem (serasa sedang di bis malam! Hahaha…). Kayaknya ada yang nggak kuat sama AC studio kali ya…apalagi kalau aroma balsem itu bercampur dengan bau aroma snack yang dimakan anak-anak itu. Just believe that…hehehe…

Selesai nonton, walaupun capek, kita akhirnya tersenyum juga. Temanku sampai bilang,"baru kali ini aku benar-benar bisa tertawa lagi" Hiperbolis? Nggak juga sih, film kadang-kadang bisa menyelamatkan kita dari krisis ketawa. Read More ..